7 Alasan Kenapa Wanita Suka Menonton Sinetron

Alasan kenapa wanita lebih suka nonton sinetron
Alasan kenapa cewek suka menonton sinetron 

Wanita mana yang tidak menyukai sebuah drama Indonesia alias sinetron? Saya kira semua suka, semua bahagia, semua senang. Apa lagi? *Gundulmu ijo!* Iya sih ada beberapa wanita yang tidak suka nonton sinotron, tapi kalau ga ada acara yang seru ya mau gimana lagi. Nyetel sinetron rak yo ra popo to? Lagian juga tidak ada undang-undang yang melarang untuk menonton sinetron. Lho, kita itu sebagai warga negara seharusnya mendukung perfiliman anak bangsa dengan selalu menonton sinetron, Ftv, dkk. Kalau bukan kita siapa lagi? Semua bahagia, semua senang. Apa lagi? *Ndasmu kuning!* Lelaki mana yang tega dan betah melihat kebodohan aktor baik di sinetron dan lelaki mana yang tega dan betah melihat kekejian aktor jahat di sinetron Indonesia? Saya tidak bisa meneteskan air mata walau toh akhirnya aktor baik menang dan merasa puas saat aktor jahat kalah. Maaf saya yang hina dina ini. :'(

 

Menurut survey kecil-kecilan yang saya lakukan di dalam keluarga saya membuktikan bahwa dua dari dua wanita serumah adalah penikmat sinetron. Hal itu membuktikan bahwa semua wanita menyukai dan gemar menonton sinetron *Survey your head is red!* Lha gimana lagi, lha wong adanya cuma dua partisipan yang mau dan ikhlas saya ungkap aibnya di blog ini kok. Kalau kamu tidak setuju dengan survey yang telah saya lakukan, ya silahkan lakukan survey sendiri. Saya kira juga hasilkan akan sama.

 

Tidak semua wanita juga keles *salah satu batin dari pembaca wanita di blog ini*. Iya sih, saya juga sadar kalau wanita juga punya selera seperti pria. Tapi saya belum pernah lihat wanita merokok dengan rokok kelas berat. Eh apaan sih. Tidak semua wanita suka sinetron tapi Ftv. ← ini titik ya.

Sebenarnya apa sih yang menjadikan wanita menyukai sinetron? Berikut beberapa point dan penjelasan yang bisa saya tuliskan dari hasil observasi selama beberapa hari di rumah.

 

  1. Wanita Menyukai Kebatinan

Wanita mana yang tidak mempunyai batin yang peka? Hal inilah yang dijadikan oleh sutradara-sutradara berbakat Indonesia untuk membuat sebuah sinetron yang banyak ditonton oleh wanita Indonesia. Mengutamakan ketidakmasukan akal sehat dan kenyataan selalu mereka gunakan tanpa harus menggunakan nalar manusia sehat dan tanpa harus memberikan pesan moral yang nyata. Yang penting menyentuh dan bahkan merobek-robek batin penonton wanita. It’s work! Semua wanita bahagia dan semua wanita senang.

 

  1. Wanita Menyukai Yang Berlebihan

Gosip ibu-ibu PKK mana yang tidak menyukai gosip yang tidak ada kelebihannya? Semua suka dan semua senang akan kelebihan dari sebuah gosip. Sama seperti halnya sinetron, segala adegan selalu mempunyai kelebihan yang ditonjolkan. Adegan marah, sedih, nangis, iri, dengki, dendam,, mengeluh dan segal macam jurus sinetron. Semua berlebihan dan menjengkelkan sehingga menimbulkan emosi tersendiri bagi semua penonton setia sinetron Indoensia.

 

  1. Wanita Mempunyai Sifat Pengikut

Alur atau adegan mana yang mau ditinggalkan oleh penonton setia sinetron? Semua ingin diikuti dari awal sampai akhir. Jangan sampai kok ketinggalan satu air mata saja yang dijatuhkan oleh pemeran utama. Hukumnya haram dalam dunia penikmat sinetron. Hal inilah yang menjadikan kenapa wanita tidak suka menonton sepakbola atau berita saat jam tayang bersamaan. Pengikut sejati!

 

  1. Wanita Tidak Suka Logika dan Nyata

Ketika wanita berada pada sebuah moment yang menyenangkan, wanita akan meninggalkan pemikiran logika dan bayangan nyata. Moment yang menyenangkan itu adalah saat nonton sinetron. Suka atau tidak, sinetron hanya mengandung 0,01% logika dan kenyataan. Semua yang ada disana hanya bullshit! Eh mungkin saya kurang banyak nonton sinetron jadi asal ceplas ceplos saja. Maaf deh…

 

  1. Wanita Kurang Bergaul atau Bersosial

Kata siapa wanita tidak suka bergaul dan bersosial? Semua suka dan semua senang. Apa lagi? *Sikutmu wesi!* Bergaul dan bersosial bersama pencinta dan pengikut sinetron yang sama? Elah… Sama aja ndul! Tapikan bahas sinetronnya cuma silangan aja, selebihnya gosip. Berartikan kami cukup bergaul dan bersosial. Iya deh… Mungkin kamu perlu pekerjaan yang lebih sibuk saat prime time di petang hari. Mungkin membaca wikipedia.org atau blog saya ini agar semua senang dan bahagia. 🙂

 

  1. Wanita Kesepian dan Manja

Wanita mana yang suka dianggurin? Udah malam minggu tapi tidak ada yang nge-BBM smartphone-nya untuk ngajak keluar main atau setidaknya ngapel di rumah. Kalau kesepian kayak gini ya asyiknya nonton tipi apa lagi ada Preman Naik Haji. Sedap abes… Semua sentosa! Kalau ga kesepian ya berarti wanita tersebut manja. Lho! Wanita mana yang tidak ingin dimanja? Semua pingin dan semua senang. Manja kok kebablasan sampai umur 21 dan sama orangtua lagi. -_- Lelaki mana yang tidak menyukainya? Semua laki-laki suka dan bahagia. *Sikutmu karatan!*

 

  1. Wanita Kagak Punya Kerjaan

Saat wanita mempunyai banyak waktu luang di rumah dan hampir 7 hari 24 jam, maka yang bisa dia lakukan hanya menonton televisi dengan acara sinetron sambil sesekali mengecek BBM atau notifikasi media sosial di smartphone-nya. Kalau dia lagi sendiri biasanya sambil makan kacang godong kalau peyek hasil masakan ibunya di dapur selama seharian. Namanya juga anak, harus mendapatkan pelayanan kasih sayang dari seorang ibu. Anak senang ibu pun bahagia dan semua terharu. :’)

 

Sebenarnya masih banyak lagi point-point yang mengakibatkan seorang wanita menyukai sinetron busuk terbaik Indonesia. Namun karena saya sebagai penulis dan peneliti yang amatir, jadi ya hanya segini dulu tulisan yang bisa saya post di blog sederhana ini. Jika kamu mempunyai pendapat yang masuk akal untuk menjawab kenapa wanita suka menonton sinetron, silahkan berkomentar. Mana tahu saya mau mengedit lalu memasukkan komentar kamu di post ini. Semua bahagia dan semua sejahtera.

Katanya Buka Bersama, Ternyata Foto Bersama

Buka puasa bersama teman-teman alumni
Buka puasa bersama teman-teman alumni

Puasa sudah memasuki hari ke-15 dan saya baru melakukan buka bersama bersama teman-teman satu kelas waktu SMK. Mereka sungguh cantik-cantik dan terlihat lebih dewasa dari yang saya bayangkan sebelumnya. Maklum, sudah lama saya tidak bertemu dengan mereka setelah buka bersama tahun lalu. Kecuali beberapa orang yang memang terlihat begitu-begitu aja, mungkin karena sebagian dari mereka memiliki gen yang membuat mereka awet muda. Eh enggak juga sih, mungkin karena baru kemarin saya tidak melihatnya, jadi waktu bertemu, wajah dan postur tubuhnya masih sama seperti tempo hari. Continue reading Katanya Buka Bersama, Ternyata Foto Bersama

Sindrom Artis Mahasiswa Amikom

Maudy Ayunda
Maudy Ayunda wantia muda asli Indonesia yang penuh talenta berjalan di depan gedung IV STMIK Amikom Yogyakarta

Karburator:  Beberapa hari yang lalu kalau tidak salah 3 hari yang lalu di Kampus Ungu alias STMIK Amikom Yogyakarta kehadiran sesosok wanita penuh talenta.  Ya, Maudy Ayunda. Wanita yang katanya cantik dan banyak fans-nya tersebut mengisi suara atau dubber dari kartun 2D Battle Of Surabaya.  Banyak teman saya tiba-tiba demam dan ngigau dalam tidurnya karena melihat Maudy di Amikom. Bahkan ada satu teman saya yang langsung mengunduh semua file MP3 dan Video Bajakan Maudy di internet sepulang dari kampus. Saya yang menjadi saksi mata dalam kejadian bajak-membajak dan mendengarkan sekaligus melihat MP3 dan Video Maudy oleh teman saya tersebut merasa kasihan plus terharu.

Bagaimana tidak, teman saya sampai hampir gila dibuatnya. Di kos-an teman saya tersebut dia terus-terusan berpikir untuk membuat tulisan mengenai Maudy yang menyambangi kos kampusnya. Ia sampai ga bisa mandi gara-gara sibuk merancang bait-bait kata untuk tulisan di blognya. Sampai dua mesin layar berkeyboard teman saya tersebut hidup lebih dari 10 jam hanya untuk membuat tulisan. 1 laptop untuk merancang tulisan dan 1 komputer untuk mendesign gambar untuk mendukung tulisannya. Kata orang kan kalau ga ada gambar itu bohong alias no pict is hoax.

Untung teman saya tersebut mempunyai Wifi di kamar kos-nya, di situ kadang saya sedih numpang wifi-an gratis.  Ya untung saja punya wifi gratis dan mau berbagi kebahagiaan bagi kaum fakir kuota macem saya. Haha… Hal itulah yang membuat saya betah menemani teman saya yang lagi terserang sindrom Maudy artis.

Tidak hanya teman saya itu saja yang terserang sindrom artis, hampir seluruh teman saya yang saya temui, mereka selalu ngomongin Maudy dan bahkan ada yang sampai berbuat diluar kendali dengan mengunggah foto Maudy dibarengi dengan editan, menambahkan orang-orang di depan, belakang, samping kanan dan kiri dari Maudy. Oh bray… Don’t to be ugly man. Maksud saya, bolehlah kamu tergila-gila oleh orang lain tapi ya tidak segitunya juga keles.

Oh iya, saya dapat titipan pertanyaan dari simbah saya untuk orang-orang yang lagi terkena sindrom artis khususnya mahasiswa Amikom. Begini pertanyaan beliau, “Buat apa kalian berburu foto Maudy atau bahkan kalian sempat berfoto dengan Maudy?” Idih… Cadas gilazzz… Saya ikut bantu jawab deh. 99% dari mereka yang berburu foto Maudy pasti bertujuan untuk pamer. Pamer di mana? Ya jelas di internet dong dengan menyertakan kalimat “Semangat ya kak Maudy untuk jadi dubber Battle Of Surabaya” padahal di balik kalimat itu sebenarnya “Ini lho, di kampusku (STMIK Amikom Yogyakarta) didatangin oleh Maudy Ayunda”. Hayo… Ngaku shaja. Bangga? Yoo buaaaangggaa…

Bukan maksud saya melarang kalian untuk berbuat seperti itu, kalian berburu foto, video, saling lomba status dan tweet, upload di twitter, path, instagram dan facebook. Ayolah bray, saya ga punya smartphone untuk upload foto di instagram. Haha…

Mari kita sama-sama terserang sindrom artis dan bahagia dalam dunia marketing dari Battle Of Surabaya tidak peduli kita Mahasiswa Amikom atau bukan. – Salam Sego Numplak

Senyuman Khas Ala Profesi

Tersenyumlah dan jangan pernah pedulikan apa pun profesimu
Tersenyumlah dan jangan pernah pedulikan apa pun profesimu

Bagian Knalpot:  Baru melek di tengah malam karena lelah dan cuaca yang mendukung untuk dinikmati dengan tidur. Setengah harian ini saya mencari kejelasan program yang saya ikut yaitu Google Adsense di Kantor Pos Indonesia. Mulai dari kantor tingkat kecamatan hingga kantor Pos pusat. Berawal dari pemberitahuan bahwa alamat yang saya gunakan dalam program Google Adsense tidak valid akhirnya saya niatkan Jumat (27/3) untuk mendatangi Kantor Pos guna menanyakan apakah ada kiriman surat untuk saya dari Google. Setelah bertanya di kantor Pos kecamatan Pyongyang Piyungan ternyata udah ga melayani hal berbau kirim-mengirim karena alasan jam kerja, sebagai referensinya saya disuruh datang ke Kantor Pos pusat yang berada di tengah pusat Kota Jogja. Karena di Kantor Pos Jogja bisa melayani hal seperti ini sampai dengan pukul 19:00. Ya sudah akhirnya tak ikutin juga anjuran bapak petugas Kantor Pos untuk datang ke Kantor Pos Jogja.

Keluar dari kantor Pos dan starter kijang besin sepada motor menuju Kantor Pos Jogja. Sambil melihat spedo meter untuk mengamankan bahan bakar dalam perjalanan, eh ternyata sudah mendekati titik krusial dan tragis. Ya ga papa, asal pelan yang penting sampai ke SPBU terdekat. Meluncur dulu deh ke SPBU untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM). Bbrrrmm…cit… akhirnya sampai dan langsung menuju ke podium khusus BBM Non Subsidi alias Pertamax. “Isi Rp.30.000,00 pak” kata saya kepada petugas SPBU yang kebetulan memang bapak-bapak yang melayani saya untuk mengisi BBM. Dengan sigap dan penuh kharismatik akhirnya bapak petugas mengisikan Pertamax ke tangki sepeda motor saya. Tangki sudah penuh tapi nominal uang dan nominal BBM tidak balance, petugas SPBU bilang “Rp.27.000,00 saja ya mas” saya sambut dengan satu pertanyaan “Iya pak. Harganya belum naik juga to pak?” balasnya “Belum mas” dengan senyuman khas ala petugas SPBU. Ya sudah kalau gitu, sekilas kejadian di SPBU tadi sore.

Lanjut lagi menuju Kantor Pos Indonesia di pusat Kota Jogja. Bbbrrrmm…cit. Sampai sudah di parkiran depan Kantor Pos dengan melewati beberapa petugas parkir. Standarkan motor lantas masuk berharap petugas parkir tidak melihat kehadiran saya di wilayah kekuasaannya. Mengendap-endap masuk ke Kantor Pos melalui pintu utama masuk Kantor dan langsung disambut baik oleh bapak petugas Kantor Pos. Kebetulan bapak-bapak lagi yang bertugas di Kantor Pos sore itu. Bapak petugas bertanya “keperluannya apa mas” sambil tersenyum khas ala petugas Kantor Pos. Tak jawab “Mau ini pak, ambil surat” sambil membalas senyuman bapak petugas. “Oh sini mas” menuju ke sebuah komputer sentuh ding-dong lalu menyentuh-nyentuh sebuah interface-nya lantas keluar sebuah kertas dengan nomor antrean. Waw… Saya yang ga pernah lihat pelayanan sistem komputer atau memang saya yang ga pernah datang ke Kantor Pos modern ala Kantor Pos Indonesia di Jogja. Ah entalah…

Sambil memberikan kertas nomor antrean kepada saya, bapak tersebut menyuruh saya untuk menuju loket nomor 11 lantas diakhir dengan senyuman. “Terima kasih pak” timpal saya kepada bapak petugas di Kantor Pos Indonesia. Jalan sampai loket nomor 11 tiba-tiba ada perempuan muncul di balik meja loket “buset, selain ada komputer sentuh ternyata ada juga loket ajaib yang bisa memunculkan teller di Kantor Pos Indonesia secara otomatis” batin saya. “Selamat sore mas, ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan di balik meja panjang bak tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur saat dipimpin oleh Hitler. “Iya mbak, saya mau tanya soal surat kiriman dari Google di Amerika, kebetulan saya ikutan program Google Adsense” jawab saya sambil mengikuti alur senyuman di balik sambutannya kepada saya. “Begini mas, kalau mengenai hal tersebut mas bisa menanyakannya kepada petugas Customer Service tapi mas maaf, untuk jam sekarang Customer Service kami tidak bisa melayani karena sudah bukan jam-nya lagi. Customer service dapat melayani mas hanya sampai pukul 14.00 WIB” sahutnya dengan senyuman khas ala teller Kantor Pos Indonesia. “Oh begitu ya mbak, ya sudah kalau begitu mbak. Terima kasih banyak” timpal saya dengan membalas setiap senyuman yang telah dilontarkan oleh mbak-nya selama kami berhadapan.

Keluar Kantor Pos Indonesia dengan berpikir untuk menyusun strategi agar bisa bangun pagi dan pergi ke Kantor Pos. Sampai ke kijang besi sepeda motor yang telah saya tinggalkan beberapa menit sambil mengamati keadaannya apakah ada sebuah kertas menempel di stang atau kepala sepeda motor. Alhamdulillah tidak ada. Hehe… Starter sepeda motor untuk kembali ke rumah dan tiba-tiba dari belakang ada yang berbicara “Parkirnya mas”. “Wah kok ya denger juga kalau sepeda motor saya hidup” batin saya sambil menoleh ke belakang. “Wah pak cuma sebentar saja kok, lagian saya juga tidak jadi ambil paket di dalam” bela saya. “Ya kan mas parkir, motornya ditinggal to?” tuduh bapak petugas parkir sambil tersenyum khas ala petugas parkir pada umumnya. “Ya sudah deh pak, Rp.2.000,00 saja ya pak?” balas saya sambil mengambil dompet yang ada di dalam tas. “Rp.1.000,00 mas” tawar tukang parkir. Kaget sambil menatap mata dari tukang parkir “Ya sudah pak, ini” sambil saya sodorkan uang senilai Rp.2.000,00 kepada tukang parkir lantas dengan cekatan beliau mengambil uang saya lalu ditukar dengan dua keping uang perak Rp.500,00 yang beliau keluarkan dari dalam saku baju sebelah kirinya.

Ternyata saya telah salah berprasangka tidak bersahabat dengan tukang parkir itu. Yang saya kira harga dari parkir selama 5 menit di depan Kantor Pos Indonesia  di Jogja adalah Rp.3.000,00 eh ternyata cuma Rp.1.000,-. Ya Allah, ampuni hamba karena telah berprasangka buruk kepada hambamu itu. Hal ini dapat menjadi masukkan sekaligus memupuk persepsi saya bahwa tidak selamanya tukang parkir itu ngeselin dan meminta jatah parkir sesuka hati. Dari ramainya daerah Wisata Nol KM Jogja tepatnya di parkiran depan Kantor Pos Indonesia bukan tidak sulit untuk mencari lembaran-lembaran rupiah dari para pesepeda motor yang parkir. Hal tersebut tidak menjadikan tukang parkir yang baik hati itu sewenang-wenang untuk menarik jatah parkir dari para pemotor yang memarkirkan motornya di wilayah kerjanya. Inilah salah satu cerita yang membuat saya tertarik untuk membuat sebuah tulisan di blog yang dikelola oleh STMIK Amikom Yogyakarta dengan judul Senyuman Khas Ala Profesi.

UTS Tinggal Menghitung Hari, Bayar SPP Tinggal Menghitung Kekurangan

UTS & SPP
Bayar SPP dulu baru bisa belajar tenang menghadapi UTS

Bagian Dalam Mesin UTS atau kepanjangan dari Ujian Tengah Semester dan SPP kepanjangan dari … Bentar tak cari dulu arti dan kepanjangan dari SPP di internet… (5 menit kemudian setelah terjebak oleh banyaknya situs yang menawarkan diri sebagai jawaban dari kepanjangan SPP). Nah baru ketemu nih arti dari SPP adalah Sumbangan Pembinaan Pendidikan (sampai nyari dulu di Wikipedia.org) baru ketemu kepanjangan dari SPP).  Mungkin dari kita akan lebih kaget dan tiba-tiba vertigo ketika mendengar UTS tinggal menghitung hari. Iya kan? Tapi apa benar kamu kaget karena kata UTS? Bukan karena kata SPP? Haha…

Bagi sebagian anak orang elit mungkin tidak akan banyak masalah terhadap kata UTS karena mereka tinggal fokus terhadap materi-materi yang telah disampaikan oleh dosen di perkuliahan. Namun lain cerita bila kata UTS diucapkan kepada anak-anak kelas Ekonomi menengah ke bawah macem saya. Mereka tidak akan bergeming terhadap kata UTS walau pun jarang belajar. Alih-alih belajar, lha wong berangkat kuliah saja pakai jadwal kuliah aturannya sendiri alias kuliah sak penak e jentik e dewe.  Kalau kelingkinya nancep hidung sebelah kiri ya maunya sebelah kiri walau pun di tawari hidungnya Pak Jokowi yang kharismatik itu. Coba deh kalau ga percaya.

Kalau menurut kalender Akademik 2014/2015 yang dicetak oleh STMIK Amikom Yogyakarta yang kebetulan saya tidak mempunyainya namun percayalah bahwa UTS tahun akademik 2014/2015 akan dilaksanakan sekitar 2 (dua) minggu lagi setelah post ini diterbitkan di blog penomenal dan varokah yang bukan tidak lain adalah http://404hasfounded.blog.amikom.me alias blog Mesin Penggiling Padi.

Nah bagi kamu yang tidak lagi mempunyai tunggakan SPP Tetap atau pun SPP Variabel, buruan deh buka buku dan pelajari lagi materi yang telah disampaikan dalam perkuliahan yang telah dilewati, bayangkan jika kamu seperti kebayangkan dari orang-orang yang masih mempunyai tunggakan SPP Tetap atau pun SPP Variabel. Pusingnya berlipat-lipat karena harus buka buku, mempelajari materi yang sulit, pinjem catatan teman sampai berkali-kali menghubungi orangtua untuk segera mengirim uang guna membayar SPP agar UTS dapat lancar. Lancar dalam arti dapat mengikuti UTS tanpa ada tunggakan SPP bukan lancar lantas mendapat A semua untuk seluruh mata kuliah.

Keluar sebentar dari hiruk pikuknya UTS dan SPP, kita melangkah ke yang namanya selalu kadang dijadikan kambing hitam dari sebuah kegiatan wajib atau pun sunah. Ya, bukan tidak lain adalah Tugas (Final Project). Kata Tugas seperti sebuah anak panah yang semakin hari semakin dekat dengan kehidupan berbangsa dan bertanah air di kampus. Tugas adalah sebuah kata yang sangat mujarab untuk dijadikan sebagai alasan dari sebuah kewajiban dalam kegiatan khususnya kegiatan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Eh ada lho yang seperti itu tapi untungnya saya ga pernah, lha wong ga pernah ngerjain tugas juga. Haha…

Kembali lagi ke UTS dan SPP deh biar ga tambah stress dan terserang vertiga alih-alih Ebola temannya E-Commerce atau juga E-Budgeting. Haha…

Terlepas dari kita yang sudah ataupun masih mempunya tunggakan SPP, alangkah bijaknya kita berfokus kepada apa yang akan kita hadapi 2 Minggu lagi. Mungkin dengan cara menyusun strategi sukses menghadapi UTS dengan siap-siap mengikuti pelatihan atau belajar bareng yang rutin dilaksanakan oleh Himpunan-Himpunan Mahasiswa di kampus. Ya walau pas hari H tidak pernah hadir setidaknya sudah mempersiapkan diri. Bukan begitu bray? Yo bay…